
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orangtua dan orang-orang yang berada dilingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua atau orang lain disekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah oleh suatu makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering disebut juga berdiri di atas kaki sendiri merupakan kemampuan seorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik. Melepaskan hubungan dengan orangtua atau usaha untuk dapat berdiri sendiri ini, juga dapat dijumpai pada masa sebelum remaja, meskipun belum begitu jelas bahkan untuk sebagian terjadi secara tidak sadar. Maccoby (dalam Mönks) mengatakan bahwa sistem hubungan orangtua yang terjadi antara usia 8 dan 12 tahun menjadi coregulasi (menentukan bersama) dimana orangtua seharusnya memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan sendiri situasi regulasi diri (self regulation). Hal ini tidak akan menghalangi adanya interaksi antara orangtua dan dalam masa remaja.
Selama masa remaja, tuntunan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika direspon secara cepat dapat saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis remaja di masa mendatang, misalnya anak menjadi anak yang bergantung pada orangtua (mengalami dependensi). Di tengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa sekarang, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi terhadap orangtua karena tidak mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian.
Banyak dijumpai dalam rubrik konsultasi pada majalah-majalah remaja yang dipenuhi oleh kebingungan dan keluh kesah yang dialami remaja karena banyak aspek kehidupan mereka yang masih diatur oleh orangtua. Salah satu contohnya adalah dalam hal pemilihan jurusan atau fakultas ketika masuk sekolah atau perguruan tinggi. Dalam hal ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat menginginkan untuk memasukkan anaknya ke sekolah atau jurusan yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, kehilangan gairah belajar.
Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian seorang remaja. Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak mereka agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggung-jawabkan segala
perbuatanya. Dengan demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orangtua.
BAB II
ISI
A. Pengertian Kemandirian
Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu. Seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah lepas dari cobaan dan tantangan. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung
pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.
Menurut Antonius (2000:145) seseorang yang mandiri adalah suatu suasana dimana seseorang mau dan mampu mewujudkan kehendak atau keinginan dirinya yang terlihat dalam tindakan atau perbuatan nyata guna menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) demi pemenuhan kebutuhan hidupnya dan sesamanya.
Mutadin (2002, www.e_psikologi.com) kemandirian adalah suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berfikir dan bertindak sendiri dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap.
Menurut Drost (1993:22) kemandirian adalah individu yang mampu menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya dan mampu bertindak secara
dewasa. Hasan Basri (1994:53) mengatakan bahwa kemandirian adalah keadaan
seseorang dalam kehidupannya mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu
tanpa bantuan orang lain.
Mönks mengemukakan bahwa kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain3. Kemandirian adalah hasrat untuk melakukan segala sesuatu bagi diri sendiri. Secara singkat dapat dipahami bahwa kemandirian mengandung pengertian :
a) Suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya.
b) Mampu mengambil keputusan dan berinisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
c) Memiliki kepercayaan diri dalam menyelesaikan tugas- tugasnya.
d) Bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain.
B. Karakteristik Perkembangan Masa Remaja
Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki karakterisitik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
a) Masa remaja adalah periode yang penting
Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi pada masa ini. Selain itu, periode ini pun memiliki dampak penting terhadap perkembangan fisik dan psikologis individu, dimana terjadi perkembangan fisik dan psikologis yang cepat dan penting. Kondisi inilah yang menuntut individu untuk bisa menyesuaikan diri secara mental dan melihat pentingnya menetapkan suatu sikap, nilai-nilai dan minta yang baru.
b) Masa remaja adalah masa peralihan
Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat kekanakkanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola perilaku sebelumnya. Selama peralihan dalam periode ini, seringkali seseorang merasa bingung dan tidak jelas mengani peran yang dituntut oleh lingkungan. Misalnya, pada saat individu menampilkan perilaku anak-anak maka mereka akan diminta untuk berperilaku sesuai dengan usianya, namun pada kebalikannya jika individu mencoba untuk berperilaku seperti orang dewasa sering dikatakan bahwa mereka berperilaku terlalu dewasa untuk usianya.
c) Masa remaja adalah periode perubahan
Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat, peubahan fisik yang cepat membawa konsekuensi terjadinya perubahan sikap dan perilaku yang juga cepat. Terdapat lima karakteristik perubahan yang khas dalam periode ini yaitu, (a) peningkatan emosionalitas, (b) perubahan cepat yang menyertai kematangan seksual, (c) perubahan tubuh, minat dan peran yang dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (d) karena perubahan minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai, dan (e) kebanyakan remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi.
d) Masa remaja adalah usia bermasalah
Pada periode ini membawa masalah yang sulit untuk ditangani baik bagi anak
laki-laki maupun perempuan. Hal ini disebabkan oleh dua lasan yaitu : pertama, pada saat anak-anak paling tidak sebagian masalah diselesaikan oleh orang tua atau guru, sedangkan sekarang individu dituntut untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri maka seringkali menolak untuk dibantu oleh orang tua atau guru, sehingga menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
e) Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri
Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama dengan kelompoknya. Salah satu cara remaja untuk meyakinkan dirinya yaitu dengan menggunakan simbol status, seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain.
f) Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
Masa remaja ini seringkali ditakuti oleh individu itu sendiri dan lingkungan.
Gambaran-gambaran negatif yang ada dibenak masyarakat mengenai perilaku
remaja mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan remaja. Hal ini membuat para remaja itu sendiri merasa takut untuk menjalankan perannya dan enggan meminta bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya.
g) Masa remaja adalah masa yang tidak realistis
Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat hidup secara kurang realistis,
mereka memandang dirinya dan orang lain sebagaimana mereka inginkan dan
bukannya sebagai dia sendiri. Hal ini terutama terlihat pada aspirasinya, aspirasi yang tidak realitis ini tidak sekedar untuk dirinya sendiri namun bagi keluarga, teman. Semakin tidak realistis aspirasi mereka maka akan semakin marah dan kecewa apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai.
h) Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa secara hukum, mereka merasa cemas dengan stereotype remaja dan menciptakan impresi bahwa mereka mendekati dewasa. Mereka merasa bahwa berpakaian dan berperilaku seperti orang dewasa sringkali tidak cukup, sehingga mereka mulai untuk memperhatikan perilaku atau simbol yang berhubungan dengan status orang dewasa seperti merokok, minum, menggunakan obat-obatan bahkan melakukan hubungan seksual.
C. Perkembangan Kemandirian pada Remaja
Kemandirian seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baik apabila diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terusmenerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Mengingat kemandirian banyak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan individu, maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai dengan kemampuannya.
Seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan. Latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. Contoh: untuk usia anak 3-4 tahun, latihan kemandirian berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali selesai bermain, dll.
Sementara itu, memperoleh kebebasan (kemandirian) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri
dari ketergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal.
Pendapat ini diperkuat olah pendapat para ahli perkembangan yang menyatakan bahwa berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, sedangkan pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai keinginannya.
Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukuan dan dihargai sebagai orang dewasa. Erikson menambahkan bahwa proses tersebut sebagai ”proses mencari identitas ego”, atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, selain ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Dengan memberikan latihan-latihan tersebut (tentu saja dengan unsur pengawasan dari orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif), berfikir secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, tidak tergantung pada orang lain, sehingga dengan demikian kemandirian khususnya pada masa remaja akan berkembang dengan baik.
Namun dalam perkembangan kemandiriannya tersebut, seorang remaja tidak hanny dipengaruhi dari dalam lingkungan keluarga saja tetapi kemandirian seorang remaja juga diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dengan teman sebaya (peer), remaja belajar berfikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima bahkan dapat menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima dalam di dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya (peer) merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan anggota keluargannya.
Ini dilakukan remaja dengan tujuan mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga tercipta rasa aman. Penerimaan dari teman kelompok sebaya merupakan hal yang penting, karena remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya.
D. Faktor-Faktor yang Menghambat Kemandirian Remaja
Penyebab seorang individu mengalami hambatan dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan dalam hal kemandirian khususnya dependensi terhadap orangtua adalah :
a. Tidak dapat mencapai kebebasan emosional dari orangtua. Ketika anak memasuki masa remaja, mereka inginberkembang menjadi dewasa dan bebas dari sipat kekanak-kanakan (childish) dan ketergantungan pada orangtua, tapi ternyata dunia dewasa adalah asing dan rumit bagi mereka, sehingga menyebabkan mereka mempunyai keinginan untuk melanjutkan kehidupan yang aman di bawah perlindungan dibawah orangtua.
b. Pola asuh orangtua. Pola asuh orangtua yang permissive akan membuat anak tidak dapat mandiri, karena mereka mempunyai penghayatan bahwa anaknya adalah manusia muda yang tidak tahu apa-apa dan kurang berpengalaman sehingga mereka risau dan tidak ingin anaknya mempunyai masalah dalam kehidupan ini. Apapun kebutuhan anak selalu dipenuhi tanpa melatih dan memberi kesempatananak untuk mandiri.
c. Kurangnya perhatian dari orangtua sehingga tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas perkembangan atau kurangnya bimbingan untuk menguasai tugas perkembangan tersebut.
d. Kurang adanya motivasi dari individu yang bersangkutan.
E. Menyikapi Perkembangan Kemandirian Remaja
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.
Beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai orang tua terhadap anaknya yang sedang mengalami perkembangan khususnya kemandirian adalah:
a) Komunikasi. Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi disii harus bersifat dua arah, artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Dengan melakukan komunikasi orangtua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Kebingungan seperti yang disebutkan diatas mungkin tidak perlu terjadi jika ada komunikasi antara remaja dengan orangtuanya. Komunikasi disini tidak berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.
b) Kesempatan. Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja tersebut mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Dalam hal ini orangtua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
c) Tanggungjawab. Bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggungjawab (betapapun sakitnya) remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus masih banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini. Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh pihak berwajib karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orangtua lah yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tidak pernah memproleh kesempatan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuatnya (bahkan tidak sempat melewati pemeriksaan intensif pihak berwajib). Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk berbuat salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan menebus kesalahannya. Kalau terus terjadi seperti itu maka remaja tidak akan pernah bisa menjadi individu yang dewasa atau mandiri.
d) Konsistensi. Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja dan sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja untuk dapat mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.
Mungkin masih terdapat banyak cara lain yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan kemandirian sang remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita ingat adalah: "Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya mulai dari sekarang". Negara ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka jangan lagi kita membangun generasi baru yang juga penuh dengan ketergantungan dan menjadi beban keluarga.
BAB III
PEMBAHASAN
Kemandirian pada tahap remaja merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan agar remaja tersebut dapat diterima oleh lingkungannya, kemandirian merupakan suatu sikap yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu bertindak dan berpikir sendiri. Untuk dapat mandiri, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan disekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri.
Robert Havinghurst menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu:
a) Aspek emosi, aspek ini ditujukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya emosi pada orangtua.
b) Aspek ekonomi, aspek ini ditujukan dengan kemampuan mengatur ekanomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua.
c) Aspek intelektual, aspek ini ditujukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
d) Aspek sosial, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung dari orang lain.
Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri sering kali remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Misalnya remaja mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua, dapat saja terjadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya.
Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri remaja sendiri. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dan penyusaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang menjadi frustasi dan memendam kemarahan yang mendalam kapada orangtuanya atau orang lain disekitarnya.
Frustasi dan kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua maupun orang lain dan dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang lain disekitarnya. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan remaja tersebut karena akan menghambat tercapainya kedewasaan dan kematangan kehidupan psikologisnya.
Sebenarnya yang mempengaruhi individu mengalami hambatan perkembangan dalam hal kemandirian yaitu ketergantungan terhadap orangtua khususnya dependensi terhadap ibu, namun banyak faktor lain yang dapat menjadi penghambat diantaranya adalah ketidakberhasilan individu dalam memenuhi salah satu tugas perkembangan pada fase sebelumnya (masa remaja ) yaitu mencapai kebebasan emosional dari orangtuanya dalam hal ini ibunya, ternyata individu ini tidak berhasil memenuhi tugas perkembangan tersebut dan justru melanjutkan kehidupan yang aman di bawah perlindungan ibunya, sehingga tidak dapat bebas dari sifat kekanak-kanakan dan tetap terikat serta tergantung pada ibunya.
Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor yang tidak kala penting yaitu pola asuh orangtua yang terlalu melindungi anaknya, sehingga memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, selalu memenuhi semua kebutuhannya tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk belajar mandiri.
Faktor yang lain adalah kurangnya pengertian tentang tugas-tugas perkembangan dari orangtua, sehingga tidak bisa membantu anak untuk memenuhi tugas-tugas perkembangan pada tiap fasenya. Individu yang cenderung mengalami hambatan dependensi terhadap orangtua biasanya sering mengalami hambatan dalam penyusaian diri dengan lingkungan sosialnya, sehingga mereka cenderung menarik diri dan tidak mau mengerti orang lain, namun selalu ingin mendapat pertolongan atau tergantung pada orang lain.
Beberapa masalah dalam pembentukan dan perkembangan penyusaian diri seseorang merupakan hal yang terbawa dari dalam keluarga. Orangtua yang bertanggung jawab akan membantu anak remajanya agar mereka berkembang dan berhasil mencapai atau memenuhi tugas perkembangannya, dalam arti pada waktunya siap memasuki kebebasan. Individu yang berkembang dengan baik ini akan mempunyai kemampuan penyusaian diri dengan orang lain, teman sebaya, otoritas, dengan kehidupan seksual, bertanggung jawab siap mencari dan menerima serta melakukan pekerjaan sebaik-baiknya.
Seharusnya dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Erikson menambahkan proses tersebut sebagai proses mencari identitas ego. Sudah barang tentu pembentukan identitas, yaitu perkembangan ke arah individualitas yang mantap, merupakan aspek penting dalam perkembangan agar dapat berdiri sendiri. Bahwa remaja tidak tenggelam dalam peran yang akan dimainkan untuk mencapai kedewasaan dengan tetap menghayati dirinya sendiri dan mencari pengalaman untuk melaksanakan tugas perkembangan selanjutnya.
Peran orangtua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai “penguat” bagi setiap perilakunya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Rober (dalam Santrock) bahwa kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat, dan kenyakinan orang lain. Dengan otonomi tersebut seorang remaja diharapkan akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
BAB IV
SIMPULAN
Banyak faktor yang menyebabkan seorang remaja mengalami hambatan dalam tugas perkembangan khususnya dalam hal kemandirian. Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orangtua, di dalam keluarga orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian sangat penting. Meskipun di dalam dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk menjadi mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Erikson, E. H. 1968. Identity: Youth and Crisis. New York: Norton.
Mönks, F. J., Knoers, A. M. P. & Haditono, S. R. 2001. Psikologi Perkembangan : Pengantar dalamBerbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
www.wikipedia.com
www.e_psikologi.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar